

Batu Pancawarna Garut sudah terlalu lama hidup dalam ukuran kecil. Dipoles rapi, dipasang di cincin, lalu selesai. Padahal kalau dilihat lebih lama, batu ini sebenarnya punya “cerita visual” yang jauh lebih besar dari sekadar aksesoris. Warna-warna di dalamnya seperti bergerak sendiri, saling tumpuk, saling potong, dan berhenti tanpa pola yang bisa ditebak.
Masalahnya, saat dipaksa jadi perhiasan, sebagian besar karakter itu hilang. Yang tersisa hanya potongan kecil dari sesuatu yang seharusnya bisa dinikmati lebih utuh. Di titik ini, Pancawarna justru lebih masuk akal diperlakukan sebagai objek seni, bukan lagi sebagai batu cincin.
Bayangkan Pancawarna dipotong lebih besar, cukup tebal, lalu dipajang berdiri di atas dudukan sederhana. Tidak perlu kilap berlebihan. Tidak perlu dibentuk aneh-aneh. Cukup diposisikan seperti orang memajang lukisan atau artefak. Fokusnya bukan “ini batu apa”, tapi “ini menarik”.
Di ukuran yang lebih besar, Pancawarna berubah total. Ia tidak lagi terasa seperti komoditas, tapi seperti karya visual alami. Setiap potongannya otomatis unik. Tidak bisa diseragamkan, tidak bisa dikejar kuantitasnya. Dan justru di situlah nilainya naik. Batu ini berhenti bersaing dengan batu akik lain, dan mulai berdiri sejajar dengan karya seni interior.
Untuk ruang kerja, ruang tamu, galeri kecil, atau hotel, objek seperti ini tidak dibeli karena fungsi, tapi karena kesan. Pancawarna menjadi benda yang dilihat, direnungkan, dan memberi karakter pada ruang. Dari situ, harga tidak lagi soal gram atau kejernihan, tapi soal visual dan pengalaman.
