Chert merupakan salah satu jenis batuan sedimen yang terbentuk dari endapan silika dalam ukuran sangat halus. Proses pembentukannya terjadi dalam waktu geologis yang panjang, umumnya berasal dari sisa organisme mikroskopis atau larutan silika yang mengendap dan mengeras. Di Indonesia, chert dapat dijumpai di beberapa wilayah dengan formasi batuan sedimen tua, meskipun keberadaannya sering luput dari perhatian karena tidak sepopuler batu bangunan lainnya.
Secara fisik, chert dikenal sebagai batuan yang sangat padat dan keras. Permukaannya halus dengan tekstur rapat, serta memiliki warna yang bervariasi mulai dari abu-abu, cokelat, kemerahan, hingga kehitaman. Salah satu ciri khas chert adalah pola pecahannya yang melengkung dan tajam, menunjukkan struktur internal yang homogen. Karakter ini membuat chert memiliki daya tahan tinggi terhadap tekanan dan pelapukan.
Dalam sejarah pemanfaatan, chert pernah digunakan sebagai bahan alat potong dan perkakas sederhana karena sifatnya yang keras dan tajam saat pecah. Dalam konteks modern, pemanfaatan chert lebih banyak diarahkan sebagai bahan galian untuk kebutuhan teknis, seperti agregat konstruksi, campuran pondasi, serta material pendukung pada pekerjaan jalan. Ketahanannya terhadap beban dan cuaca menjadikannya cocok untuk penggunaan jangka panjang.
Selain fungsi teknis, chert juga memiliki potensi sebagai batu hias dalam bentuk tertentu, terutama jika memiliki warna dan pola yang menarik. Dengan pemotongan dan pemolesan yang tepat, chert dapat dimanfaatkan sebagai elemen dekoratif sederhana, meskipun pemanfaatan ini masih relatif terbatas di Indonesia.
Sebagai sumber daya batuan, chert menunjukkan bahwa banyak material alam yang selama ini dianggap biasa sebenarnya memiliki peran penting dalam pembangunan. Dengan pengelolaan dan pemanfaatan yang tepat, chert dapat menjadi bagian dari rantai material konstruksi yang mendukung kebutuhan infrastruktur tanpa harus bergantung pada bahan impor.


