Ketika Batu Kali Diolah Menjadi Karya Seni Ruang

Batu kali adalah contoh paling jujur tentang bagaimana sesuatu bisa dianggap tidak bernilai hanya karena terlalu sering dilihat. Batu ini ada di mana-mana. Di sungai, di taman, di pinggir jalan. Karena terlalu “biasa”, kita berhenti melihat potensinya.

Padahal, kalau diperhatikan lebih lama, bentuk batu kali sebenarnya sudah “jadi”. Lengkungannya alami, volumenya seimbang, dan teksturnya menyimpan jejak waktu. Dalam konteks seni modern, ini justru kualitas yang dicari. Banyak patung kontemporer mahal di luar sana dibuat dengan prinsip yang sama: bentuk sederhana, material jujur, dan kehadiran yang kuat.

Alih-alih diubah total, batu kali hitam justru paling menarik saat disentuh sedikit saja. Dipilih bentuk yang tepat, lalu dipahat minimal untuk menegaskan siluet. Sebagian permukaan dibiarkan kasar, sebagian dirapikan. Tidak ada detail rumit. Tidak ada ornamen. Yang ditonjolkan adalah massa dan karakter.

Hasilnya bukan patung dekoratif yang ramai, tapi objek seni yang “diam tapi terasa”. Diletakkan di sudut ruangan, lobby, atau ruang terbuka, batu ini memberi kesan tenang, berat, dan permanen. Sesuatu yang tidak bisa digantikan plastik, resin, atau bahan pabrikan.

Nilai batu kali hitam naik bukan karena diubah jadi sesuatu yang ribet, tapi karena posisinya diubah. Dari batu taman menjadi karya seni. Dari material murah menjadi objek yang punya narasi. Setiap batu adalah satu karya. Tidak ada duplikat. Tidak ada produksi massal. Dan justru itu yang membuatnya pantas dihargai lebih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *