
Gorontalo – Taufiq Hiola, Deputi V Badan Pengurus Pusat (BPP) Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia, menegaskan komitmen APRI dalam mendukung penyelenggaraan PENAS XVII Tahun 2026 dengan membuka stan edukasi selama pelaksanaan kegiatan pada 20–25 Juni 2026.
Menurut Taufiq Hiola, kehadiran APRI di PENAS XVII merupakan bentuk kontribusi organisasi dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya penerapan pertambangan rakyat yang baik, legal, dan berwawasan lingkungan.
“Melalui stan APRI, kami ingin memberikan pemahaman bahwa kegiatan pertambangan harus dilakukan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan. Salah satu prinsip yang kami dorong adalah pelaksanaan reklamasi setelah kegiatan penambangan selesai sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan,” ujar Taufiq Hiola.
Selain itu, APRI juga memperkenalkan berbagai teknologi dan metode pengolahan mineral yang lebih ramah lingkungan. Di antaranya penggunaan karbon aktif yang berdasarkan hasil uji coba memberikan hasil pengolahan yang lebih optimal, serta sejumlah bahan kimia alternatif yang lebih ramah lingkungan seperti Jincan, Sandios, Sianurat, dan WSK04.
Tidak hanya memberikan edukasi mengenai teknologi pertambangan, stan APRI juga menjadi pusat konsultasi bagi masyarakat dan pelaku usaha pertambangan rakyat yang ingin memperoleh informasi mengenai proses perizinan pertambangan, termasuk Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR), Izin Pertambangan Rakyat (IPR), serta Izin Usaha Pertambangan (IUP) Prioritas.
Taufiq Hiola berharap kehadiran APRI pada PENAS XVII dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya tata kelola pertambangan yang profesional, legal, aman, dan ramah lingkungan, sehingga kegiatan pertambangan rakyat dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian alam.
“APRI membuka ruang bagi seluruh peserta PENAS dan masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai tata kelola pertambangan rakyat yang baik, termasuk aspek lingkungan, teknologi, hingga proses perizinannya,” tutup Taufiq Hiola.
