
Di dalam lubang tambang, dinding dan atap yang terlihat keras belum tentu benar-benar kuat. Ada bagian batuan yang sudah rapuh, retak, atau lapuk sehingga mudah lepas ketika terkena getaran, air, atau pukulan alat. Batuan seperti ini dapat jatuh sewaktu-waktu dan mengenai penambang yang sedang bekerja di bawahnya. Karena itu, kemampuan mengenali batuan rapuh menjadi keterampilan dasar yang perlu dimiliki setiap penambang.
Cara pertama yang paling sering dilakukan adalah mengetuk dinding dan atap lubang dengan alat. Penambang dapat mengetuk batuan menggunakan linggis atau palu, lalu mendengarkan bunyinya. Batuan yang padat biasanya menghasilkan bunyi nyaring, sedangkan batuan yang rapuh atau sudah terlepas dari bagian di belakangnya cenderung berbunyi tumpul atau kopong. Bagian yang berbunyi kopong perlu diwaspadai karena bisa jadi sudah tidak menempel dengan kuat.
Perhatikan juga retakan dan rekahan pada batuan. Dinding yang memiliki banyak retakan rapat, retakan yang saling bersilangan, atau rekahan yang memisahkan batuan menjadi bongkahan-bongkahan kecil menunjukkan bahwa batuan tersebut sudah lemah. Batuan seperti ini lebih mudah lepas, terutama ketika penggalian dilakukan di dekatnya.
Selanjutnya, lihat warna dan tekstur permukaan batuan. Batuan yang sudah lapuk biasanya berubah warna menjadi kecokelatan, kemerahan, atau pucat, dan permukaannya terasa lebih lunak saat disentuh atau digores. Batuan yang mudah hancur menjadi serpihan atau remah ketika dipegang menandakan kekuatannya sudah jauh berkurang dibandingkan batuan segar di sekitarnya.
Hal lain yang tidak boleh diabaikan adalah keberadaan air pada dinding lubang. Rembesan air yang terus-menerus dapat melemahkan batuan, terutama batuan yang mengandung lempung. Lempung yang basah menjadi licin dan dapat membuat bongkahan batuan di atasnya tergelincir atau terlepas. Bagian dinding yang terlihat basah, berlumut, atau berlumpur sebaiknya diperiksa lebih sering.
Serpihan yang sering jatuh di titik yang sama juga menjadi petunjuk penting. Jika di lantai lubang sering ditemukan pecahan batuan baru di bawah bagian tertentu, kemungkinan besar dinding atau atap di atasnya sedang melemah. Bagian seperti ini perlu segera diperiksa, dibersihkan dari batuan yang menggantung, atau diberi penyangga sebelum pekerjaan dilanjutkan.
Untuk tambang rakyat yang dikelola secara kelompok, pemeriksaan batuan rapuh sebaiknya menjadi kebiasaan sebelum masuk dan selama bekerja di dalam lubang. Kelompok dapat menunjuk penambang yang lebih berpengalaman untuk memeriksa dinding dan atap, menandai bagian yang dianggap rawan, serta menyepakati bahwa tidak ada yang boleh bekerja di bawah bagian tersebut sebelum diamankan. Pengalaman ini juga perlu diajarkan kepada penambang baru.
Pada akhirnya, mengenali batuan rapuh adalah cara sederhana untuk mencegah kecelakaan di dalam lubang tambang. Bunyi ketukan, retakan, perubahan warna dan tekstur, rembesan air, serta serpihan yang sering jatuh dapat menjadi tanda bahwa batuan sudah tidak kuat. Dengan memeriksa dan menangani bagian rawan sejak awal, pekerjaan di dalam lubang dapat berjalan lebih aman.
