
Bandung – Humas BRIN. Potensi sumber daya pasir zirkon di Indonesia dinilai masih sangat besar dan perlu dioptimalkan melalui strategi hilirisasi agar mampu meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Hal ini disampaikan oleh Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yuhelda Dahlan dalam webinar DiGdaya #24 Pusat Riset Sumber Daya Geologi mengenai Kajian Terpadu Sistem Mineral Indonesia: Endapan Logam Tanah Jarang, Sumberdaya Zirkon, dan Evolusi Geokimia Batuan Magmatik, kemarin.
Dalam paparannya, Yuhelda menjelaskan bahwa zirkon merupakan mineral yang umumnya ditemukan sebagai mineral ikutan (asesoris) pada batuan beku maupun endapan pasir. Mineral ini memiliki sifat fisik yang stabil, tahan terhadap suhu tinggi, serta memiliki ketahanan kimia yang baik sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk industri.
“Indonesia memiliki potensi sumber daya pasir zirkon yang tersebar di berbagai wilayah, seperti: Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Papua. Berdasarkan data yang dipaparkan, cadangan terbesar berada di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, serta Kepulauan Bangka Belitung sehingga wilayah tersebut berpeluang menjadi pusat pengembangan industri berbasis zircon,” jelas Yuhelda.
Meskipun demikian, kontribusi Indonesia dalam perdagangan pasir zirkon dunia masih relatif terbatas apabila dibandingkan dengan negara produsen utama seperti Australia dan Afrika Selatan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peluang pengembangan industri pengolahan di dalam negeri masih terbuka, terutama untuk meningkatkan nilai tambah sebelum produk dipasarkan ke tingkat global.
Yuhelda juga memaparkan bahwa hilirisasi pasir zirkon mampu menghasilkan berbagai produk turunan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, di antaranya zirkonia, logam zirkonium, serta opacifier yang banyak digunakan pada industri keramik. Pengembangan produk hilir tersebut dinilai dapat memperkuat rantai pasok industri nasional sekaligus memberikan efek berganda terhadap sektor lain, seperti konstruksi, transportasi, perdagangan, jasa keuangan, hingga kegiatan ekspor.
“Berdasarkan proyeksi kebutuhan pasar pada tahun 2025, sekitar 70 persen kebutuhan pasir zirkon nasional berasal dari industri keramik. Sementara itu, distribusi konsumsi menunjukkan bahwa industri keramik dan sanitasi menyerap sekitar 56 persen kebutuhan nasional, diikuti industri pengecoran logam sebesar 20 persen dan berbagai sektor industri lainnya sebesar 24 persen,” tuturnya.
Menutup paparannya, Yuhelda menegaskan bahwa pengembangan hilirisasi pasir zirkon merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan kemandirian industri nasional melalui pemanfaatan sumber daya mineral yang dimiliki Indonesia. “Berdasar data 56 persen kebutuhan pasir zirkon nasional ada untuk industri keramik, inilah yang akan jadi pasar utama yang harus kita usahakan untuk substitusi impor dan hemat devisa sebesar 1,6 triliun,” ujarnya.
Melalui penguatan hilirisasi, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan pemanfaatan pasir zirkon sebagai bahan baku industri bernilai tinggi. Selain mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, strategi tersebut juga diharapkan dapat memperkuat struktur industri nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral, serta memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi.
